BERITA HARI INI, Powered By METRO TV

POLISI TANGKAP MOHZAHRI, PEMILIK RUMAH YANG DIHUNI TERORIS *** MASYARAKAT MENYAKSIKAN PENGEPUNGAN TERORIS DARI JARAK SEKITAR 200 METER *** SUASANA DI DESA BEJI, KEDU, TEMANGGUNG MASIH MENCEKAM *** MABES POLRI BELUM BISA PASTIKAN YANG DI DALAM RUMAH ITU NOORDIN M TOP *** RATUSAN WARGA DIGIRING POLISI MENJAUH DARI LOKASI BAKU TEMBAK *** LIMA TRUK POLISI DAN MOBIL PENJINAK BOM DIDATANGKAN DI DESA BEJI, KEDU, TEMANGGUNG *** HINGGA MALAM INI MASIH TERJADI BAKU TEMBAK DI DESA BEJI, KEDU, TEMANGGUNG *** DIDUGA ADA LIMA TERORIS DI DALAM RUMAH YANG DIKEPUNG DENSUS 88 *** TATAK ADALAH ANAK MOHZAHRI, PEMILIK RUMAH YANG DIGEREBEK, GURU AGAMA DI SMP MUHAMMADIYAH, KEDU *** ARIS DAN INDRA ADALAH SEPUPU TATAK, YANG JUGA DITANGKAP DENSUS 88 PADA TIGA TAHUN LALU *** TIGA TENTARA NATO TEWAS DI AFGHANISTAN *** KANADA TETAP KELUAR DARI AFGHANISTAN PADA 2011 *** JALAN SUDIRMAN DAN JALAN THAMRIN, JAKARTA, AKAN DITUTUP PADA MINGGU (9/8), PUKUL 05.00 - 10.00 WIB *** KETUA KPU: PUTUSAN MK PERKUAT PERATURAN KPU *** KASUS POSITIF FLU BABI DI 21 PROVINSI DI INDONESIA MENCAPAI 691 ORANG, 3 MENINGGAL *** DUA PASIEN FLU BABI DIRUJUK KE RSUD SOSODORO DJATIKOESOEMO, BOJONEGORO, JATIM *** TIMOR LESTE USUL BANGUN LEMBAGA ADAT PERBATASAN *** BI AKAN GANDENG LPPI ATASI MASALAH SDM PERBANKAN SYARIAH *** DUA WARGA DITANGKAP DI RUMAH TATAK, USAI BAKU TEMBAK DI DESA BEJI, KEDU, TEMANGGUNG *** TERJADI BAKU TEMBAK ANTARA TERORIS DAN POLISI DI DESA BEJI, KEC. KEDU, TEMANNGGUNG, JATENG, PUKUL 16.00 WIB *** KEJAGUNG: SIDANG PRITA JALAN TERUS MESKI TERJADI PERDAMAIAN *** PEMERINTAH TETAPKAN 3 HARI, JUMLAH MAKSIMAL HARI LIBUR NASIONAL DAN CUTI BERSAMA 2010 *** POLRI BELUM BERSEDIA SEBUTKAN NAMA 4 SAKSI DUGAAN SUAP KPK *** POLRES KUDUS: 720 RIBU PITA CUKAI ROKOK PALSU DARI JAKARTA SEMPAT DIEDARKAN *** LUMAJANG, JATIM, BERSIAGA HADAPI LETUSAN SEMERU YANG KINI STATUSNYA WASPADA *** POLDA JATIM TERBITKAN SP3 KASUS LAPINDO *** PEMERINTAH SIAPKAN PERPRES BARU TENTANG LAPINDO *** KEJAKSAAN LIMPAHKAN BERKAS PERKARA 5 TERSANGKA PEMBUNUHAN NASRUDIN KE PN TANGERANG *** PRESIDEN DIPASTIKAN AJUKAN CALON GUBERNUR BI KEPADA DPR PERIODE 2004-2009 *** BI: PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN II LEBIH RENDAH *** DEPKEU TARGETKAN INVENTARISASI ASET NEGARA SELESAI AKHIR 2009 *** PEMERINTAH JAMIN TARIF LISTRIK 2010 TIDAK NAIK *** BI PERKIRAKAN HINGGA AKHIR TAHUN RUPIAH TETAP MENGUAT *** INDEKS STRAITS TIMES DITUTUP TURUN 52,15 POIN KE POSISI 2.549,35 *** MK KABULKAN SEBAGIAN PERMOHONAN UJI MATERI PASAL 205 AYAT 4 UU NO. 10/2008 TENTANG PEMILU LEGISLATIF *** DEPBUDPAR RENCANAKAN PERGELARAN SENI MENGENANG WS RENDRA *** INVESTASI JALAN KA LUBUKLINGGAU-TALA MENCAPAI RP 11,271 TRILIUN *** BMKG: SEPTEMBER KALBAR BARU DIGUYUR HUJAN *** KAJATI MALUT, BURHANUDDIN: SEJAK JANUARI-JULI 2009 SELURUH KEJAKSAAN MALUT SIDIK 17 KASUS DUGAAN KORUPSI YANG RUGIKAN NEGARA RP 60 MILIAR, BARU RP 32 MILIAR UANG NEGARA DISELAMATKAN *** IHSG DITUTUP TURUN 10,84 POIN KE POSISI 2.349,13 *** 99 SISWA SMU DARI BERBAGAI DAERAH IKUTI PROGRAM PERTUKARAN KE AS *** MENHUT BELUM BERSEDIA KELUARKAN IZIN PINJAM PAKAI HUTAN UNTUK NEWMONT *** KETUA KPU KRITIK BAWASLU YANG DINILAI MENIMPAKAN SEMUA PERSOALAN KE KPU *** KEJAGUNG TERUS KAJI UPAYA HUKUM SELANJUTNYA ATAS PUTUSAN YANG MEMBEBASKAN MUCHDI PR

Getting Old

Setiap makhluk hidup di dunia ini sudah sewajarnya mengalami proses kelahiran lalu tumbuh menjadi anak yang lucu, kemudian menjadi remaja yang banyak tingkahnya. Proses berlanjut menjadi manusia dewasa yang mulai bisa memaknai hidup ini, selanjutnya menjadi orang tua yang selalu ingin pengalaman hidupnya dicontoh oleh generasi berikutnya, kemudian menjadi manusia yang tidak berdaya lalu datanglah kematian menjemputnya.

Ketika banyak orang-orang yang memanggil saya dengan panggilan “Pak” (kecuali Mahasiswa saya yang memang sebuah penghormatan memanggil saya dengan sebutan itu), saya pun tersentak, berarti saya sudah mulai berada pada fase Getting Old (Menjadi Tua). Di fase ini, banyak hal yang mulai menurun secara grafik terutama yang berhubungan dengan fisik. Buat saya penurunan grafik secara fisik bukanlah hal yang begitu menakutkan, karena hal ini memang sudah sewajarnya berlaku seperti itu. Kendaraan saja jika sudah berusia di atas 20 tahun pasti sudah mulai banyak yang rusak dan harus diganti. Namun yang paling menakutkan buat saya untuk menjadi tua adalah di fase ini, selalu mempunyai keinginan agar orang muda berkaca dari pengalaman hidup sang orang tua bahkan cenderung egois dan memaksakan keadaan agar orang muda mengikuti cara hidupnya.

Menjadi tua merupakan sebuah fase yang menjadi indikator kesuksesan setiap manusia. Sukses biasanya di raih manakala manusia berada pada fase ini. Kata sukses pada fase ini bermakna pada banyak hal. Misalnya bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu, bisa mempunyai rumah sendiri, bisa mempunyai kendaraan sendiri dan masih banyak lagi. Setiap orang yang menjadi tua, pasti punya sesuatu yang bisa diceritakan dan dibanggakan pada generasi berikutnya. Bahkan ada orang yang pada fase ini, selalu menceritakan bagaimana dia dulu bekerja begitu sangat keras hingga mendapatkan level sukses yang selalu ia banggakan ke orang muda. Orang tersebut sangat membenci orang muda yang tidak mau bekerja keras seperti dirinya dulu ketika waktu masih muda.

Disinilah letak ke-egois-an orang yang menjadi tua dan sukses. Ketika semua kesuksesan yang diraihnya hanya dinilai dari bagaimana cara dia mendapatkannya waktu ia masih muda dulu. Semua usaha untuk menjadi sukses buat orang muda haruslah mengikuti jalannya, apabila ada di generasi berikutnya yang tidak mengikuti jalannya maka dia akan berkata kalau si orang muda pasti tidak akan bisa meraih sukses seperti dirinya. Dari sinilah banyak orang tua yang memaksakan kehendak pada anaknya ketika anaknya hendak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Seorang dokter cenderung akan mengarahkan bahkan sedikit memaksa agar anaknya mengikuti jejaknya menjadi dokter. Seorang pengacara yang sukses biasanya juga akan seperti itu, begitu juga dengan artis dan profesi lainnya yang dianggap sebagai tambang uang.

Saya banyak menemukan hal ini di mahasiswa saya. Banyak mahasiswa saya yang kuliahnya malas-malasan ketika saya memanggilnya ke ruangan saya dan mulai melakukan pendekatan dari hati ke hati, ternyata mengatakan bahwa sebenarnya dia kuliah itu karena kehendak orang tuanya dan ada rasa tidak enak jika tidak menuruti keinginan orang tuanya.

Hal lain dari menjadi tua adalah setiap perkataannya ingin selalu di dengar oleh orang muda. Sang orang tua akan merasa bahwa pendapatnya lah yang selalu benar. Ketika orang muda ikut berpendapat, maka pendapat orang muda akan begitu mudahnya tidak dihiraukan, karena menganggap orang muda kurang punya pengalaman. Yang menggelitik saya adalah, orang-orang yang saat ini menjadi tua dengan begitu banyaknya pengalaman, saat muda dulu juga mendapat perlakuan yang sama pula yaitu banyak pendapatnya yang tidak di dengar. Sang orang tua yang saat itu muda begitu bencinya terhadap orang tua yang memberikan perlakuan tersebut. Tapi anehnya seolah-olah dia lupa, kini saat dia menjadi tua, hal tersebut dilakukannya kepada orang muda. Ini berarti bahwa kebanyakan dari manusia itu memang egosentris, saat dia berada di luar dia ingin yang di dalam ikut mendengarkan pendapatnya, tetapi saat dia berada di dalam, dia tidak ingin mendengar pendapat yang diluar, meskipun dulu dia asalnya berada di luar.

Itulah sebenarnya yang saya takutkan saat menjadi tua. Takut jika saya lupa pada asal saya sebenarnya, posisi saya sebelumnya. Takut menjadi egois, ingin menang sendiri dan tidak mau mendengarkan pendapat yang lebih muda. Takut merasa selalu hebat, selalu benar, merasa kalau kesuksesan itu bisa ditempuh jika mengikuti jejaknya secara utuh. Padahal jalan sukses setiap orang tidak harus sama perjalanannya. Jika ada orang yang ingin ke Denpasar Bali, dia bisa naik pesawat langsung ke Denpasar, dia bisa naik kapal laut, dia bisa melalui jalan darat baik naik bis, mobil pribadi, sepeda motor, atau bahkan jalan kaki, semuanya bisa sampai ke Denpasar Bali.

Mudah-mudahan Tuhan memberikan saya kekuatan untuk menjadi orang tua dengan spirit milik orang muda...

Regards,

Nova


Baca Selengkapnya...

Cardiothoracic Ratio (CTR)

Postingan kali ini sebenarnya karena semangat yang ditularkan oleh Sdr Adji dari Yogyakarta, yang dalam sebuah e-mailnya mengatakan bahwa supaya saya jangan pernah bosan untuk menularkan ilmu saya kepada teman-teman lain, karena kata-kata Sdr Adji itulah, saya bela tidur agak malam, dan tidak tidur setelah sahur dan Sholat Shubuh, padahal biasanya saya ngga tahan sama ngantuk kalo Bulan Puasa lho. Oke baiklah kita mulai. Pada pemeriksaan radiologi khususnya Thorax, kadang-kadang ditemukan dimana ukuran bayangan jantung terlihat lebih besar dari biasanya. Meskipun terlihat lebih besar dari biasanya, kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa jantung tersebut mengalami pembesaran atau biasa disebut Cardiomegally. Untuk menentukan apakah jantung tersebut mengalami pembesaran, maka diperlukan sebuah perhitungan yang disebut dengan Cardiothoracic Ratio, mau tahu bagaimana pengukurannya....

Sebelum kita mulai dengan Cardiothoracic Ratio, mari kita mulai dari anatomi jantung terlebih dahulu.

Anatomi dan Fisiologi Jantung

Jantung adalah pusat dari sistem kardiovaskuler yang terletak dalam rongga dada diantara 2 paru. Jantung dilapisi oleh sebuah kantung disebut perikardium (kantong fibroserosa), fungsinya adalah membatasi pergerakan jantung dan menyediakan pelumas. Perikardium terletak dalam mediastinum medius, posterior terhadap corpus sterni dan kartilago costae II sampai VI.

Perikardium terdiri dari :
1. Perikardium fibrosum → terletak di bagian luar dan terikat kuat

2. Perikardium serosum (bagian dalam ) terdiri dari :
- lamina parietalis berdekatan dengan perikardium fibrosum
- Lamina visceralis berhubungan erat dengan jantung = epikardium
Ruang diantara lamina parietalis dan visceralis disebut cavitas perikardiak, yang berisi cairan perikardial, berfungsi sebagai pelumas.



Batas jantung
- Batas kanan oleh atrium kanan
- Batas kiri oleh auricula sinistra
- Bawah oleh ventrikel sinistra

Ruang-ruang jantung → dibagi oleh septum vertikal menjadi empat bagian atrium dextra, atrium sinistra, ventrikel dextra dan ventrikel sinistra.

Otot jantung terdiri dari tiga lapisan
1. Endokardium (bagian dalam)
2. Miokardium
3. Epikardium

Otot atrium lebih tipis dibandingkan otot ventrikel. Antara atrium kanan dan ventrikel kanan terdapat katup trikuspidalis (terdiri dari tiga daun katup). Antara atrium kiri dengan ventrikel kiri terdapat katup mitralis ( terdiri dari dua daun katup).

Antara ventrikel kiri dan aorta dan ventrikel kanan dengan arteri pulmonalis terdapat katup semilunaris ( terdiri dari tiga daun katup). Gerakan katup pada dasarnya adalah pasif, membuat aliran darah menuju kesatu arah.

Otot atrium dan ventrikel berkontraksi dengan cara yg mirip dengan otot rangka, hanya kontraksi otot jantung lebih lama. Umumnya jantung berkontraksi secara ritmik sekitar 70 – 90 denyut/menit pada orang dewasa. Konduksi jantung terdiri atas otot jantung khusus yang terdapat pada nodus sinuatrialis, nodus atrioventrikularis, fasikulus atrioventrikularis (sinistra & dextra) dan sub-endokardial serabut purkinje

Nodus sinoatrial terletak pada dinding atrium dextra dibagian atas tepat disebelah kanan muara vena cava superior. Nodus atrioventrikular terletak di bagian bawah tepat diatas tempat perlekatan septum trikuspidalis. Fasciculus atrioventrikular ( berkas his) merupakan jalur serabut otot jantung yang menghubungkan miokardium atrium dan ventrikel terdiri dari cabang berkas kanan (right bundle branch) dan cabang berkas kiri ( left bundle branch)

Teknik Radiografi Thorax

Untuk mendapatkan gambaran dari bayangan jantung, kita membutuhkan sebuah foto thorax dengan proyeksi Postero Anterior (PA). Untuk mendapatkan foto thorax yang baik, maka harus mengikuti Teknik Radiografi Thorax yang benar.

Posisi Pasien
Pasien diupayakan untuk berdiri (erect) membelakangi tabung sinar-x. Hal ini dikarenakan, saat berdiri, maka semua bentuk anatomi dari Paru-Paru dan Jantung berada pada posisi yang normal. Jika foto thorax terutama untuk melihat bayangan jantung dilakukan supine (tidur terlentang), maka gambaran jantung akan terlihat lebih besar jika dibandingkan dengan berdiri. Jantung itu ibarat balon yang diisi dengan air, sehingga apabila diposisikan supine akan melebar ke samping. Lagipula dengan posisi pasien yang erect, foto thorax akan memberikan informasi tambahan yang sebenarnya, seandainya saja pada rongga thorax pasien terdapat cairan. Dengan berdiri, cairan akan berada di bawah (sesuai dengan sifat air yang selalu menempati tempat terbawah), sehingga mudah di diagnosa.

Posisi Objek

Kedua punggung tangan diletakkan di atas pinggang masing-masing. Kedua shoulder terletak pada bidang yang sama supaya thorax simetris antara kanan dan kiri. Kepala di ekstensikan dan dagu diletakkan di atas kaset atau bucky stand. Kedua siku di dorong kedepan supaya bagian anterior dada menempel sempurna di kaset.

Central Ray dan Central Point

Central Ray di arahkan tegak lurus horizontal terhadap kaset dan di pusatkan setinggi thorakal VI.










Perhitungan Cardiothoracic Ratio (CTR)

Setelah foto thorax PA sudah jadi, maka untuk membuat perhitungan CTR nya kita harus membuat garis-garis yang akan membantu kita dalam perhitungan CTR ini.
1. Buat garis lurus dari pertengahan thorax (mediastinum) mulai dari atas sampai ke bawah thorax.

2. Tentukan titik terluar dari kontur jantung sebelah kanan dan namakan sebagai titik A.

3. Tentukan titik terluar dari kontur jantung sebelah kiri dan namakan sebagai titik B.

4. Buat garis lurus yang menghubungkan antara titik A dan B

5. Tentukan titik terluar bayangan paru kanan dan namakan sebagai titik C.

6. Buat garis lurus yang menghubungkan antara titik C dengan garis mediastinum.

7. Perpotongan antara titik C dengan garis mediastinum namakan sebagai titik D

Jika foto thorax digambar dengan menggunakan aturan di atas maka akan di dapatkan foto thorax yang sudah di beri garis seperti di bawah ini :



Setelah dibuat garis-garis seperti di atas pada foto thorax, selanjutnya kita hitung dengan menggunakan rumus perbandingan sebagai berikut :



Ketentuan : Jika nilai perbandingan di atas nilainya 50% (lebih dari/sama dengan 50% maka dapat dikatakan telah terjadi pembesaran jantung (Cardiomegally)
Contoh :
Pada sebuah foto thorax, setelah dibuat garis-garis untuk menghitung Cardiothoracic Ratio, di dapat nilai-nilai sebagai berikut :
Panjang garis A ke B = 10 cm
Panjang garis C ke D = 15 cm
Dari nilai-nilai di atas, apakah jantun pada pasien tersebut dapat dikategorikan sebagai Cardiomegally atau tidak?
Jawab :
Sesuai dengan rumus perbandingan yang telah dijelaskan, maka kita masukan nilai-nilai tersebut di atas.



karena nilai ratio nya melebihi 50%, maka jantung pasien tersebut dapat dikategorikan Cardiomegally (terjadi pembesaran jantung).

Beberapa Penyebab Cardiomegally

1. Atrial Septal Defect (ASD)
ASD adalah kelainan pada sekat atrium. Ini merupakan kelainan bawaan, dimana 80% - 90% terjadi pada orang dewasa. Wanita 3 kali lebih banyak daripada laki-laki yang memiliki kelainan ASD ini. Pada kasus ASD terjadi pembesaran pada ventrikel kanan dan seluruh bagian dari arteri pulmonaris. Atrium kanan juga mengalami pembesaran, namun pada foto thorax sulit dibedakan dengan pembesaran pada ventrikel kanan.

Contoh Foto Thorax Pada Kasus ASD



2. Mitral Stenosis
Mitral Stenosis merupakan akibat dari rheumatic carditis yang terjadi 5 sampai 10 tahun sebelumnya. Mitral Stenosis akan memperlihatkan pembesaran bayangan jantung dikarenakan terjadi oedema pada arteri pulmonaris. Awalnya rheumatic Mitral Stenosis didistribusikan oleh arteri pulmonaris ke lobus bagian atas dari paru-paru. Kemudian arteri pulmonaris membesar seiring dengan terjadinya hipertensi pada arteri pulmonaris. Pada foto thorax akan tampak membesar atrium kiri, ventrikel kanan dan cabang-cabang dari arteri pulmonaris



3. Left Ventricular Aneurysm (LVA)
LVA adalah aneurisma yang terjadi pada ventrikel kiri. Hal ini disebabkan karena terjadi pembesaran pada ventrikel kiri. Ventrikel kiri ini membesar akibat beberapa penyakit seperti TB, Kalsifikasi Infark atau Asbestos Disease.

Demikian diskusi kita kali ini, bagi yang ingin mendapatkan artikelnya dalam bentuk PDF yang sudah rah silahkan download disini

regards,

nova

Baca Selengkapnya...

Berita Duka Cita

Inna lillahi Wa inna ilaihi Raaji'uun, telah meninggal dunia Orang tua (Ibu) dari Rahpien Yuswani (Radiografer yang sekarang menjadi staf di ATRO Citra Bangsa Yogyakarta) pada tanggal 2 September 2008, menjelang Sholat Tarawih. Saya mendapatkan kabar langsung dari Rahpien, bahwa Ibundanya tercinta tertabrak motor, saat akan menjalankan sholat tarawih. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Alloh SWT, dan bagi yang ditinggalkan terutama Rahpien diberikan kesabaran dan ketabahan.

regards,

nova



Baca Selengkapnya...

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1429 H / 2008 M

Buat teman-teman sejawat radiografer se-Indonesia yang menjalankan ibadah puasa dan belum punya jadwal Imsakiyah, berikut jadwalnya :

Jadwal Imsakiyah untuk DKI Jakarta dan sekitarnya

Jadwal Imsakiyah untuk kota-kota lain

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Buat Yang melaksanakannya

regards,

nova



Baca Selengkapnya...

Welcome Ramadhan

Dalam rangka membersihkan hati kita semua supaya kita bisa menjalankan Ibadah di Bulan Ramadhan dengan keadaan yang bersih dan khusyu, maka saya mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh pengunjung blog yang setia. Semoga Ibadah kita tahun ini mendapatkan kemenangan yang gemilang

regards,

nova



Baca Selengkapnya...

New Generation

Hari ini saya berkesempatan memberikan materi pada acara Orientasi Pengenalan Kampus di ATRO Nusantara Jakarta, kebetulan tanggal 25-26 Agustus yang lalu saya menghadiri Sounding Draft Buku Ajar Mata Kuliah Fisika Radiasi di Cisarua, Bogor, yang di adakan oleh Pusdiknakes, ya mumpung lagi berada di kota asal saya, ngga ada salahnya kan silaturahmi ke temen-temen, kebetulan Direktur ATRO Nusantara Jakarta ini kan temen seperjuangan saya dulu (saya dulu di ATRO Nusantara Jakarta berdinas selama kurang lebih 8 tahun), jadi saya diminta untuk hadir disana…..

Pada saat mengisi materi tersebut, saya melihat calon-calon radiografer yang baru saja masuk. Saat melihat mereka saya teringat 13 tahun yang lalu saat saya baru saja masuk ATRO Dep.Kes Jakarta. Saya yakin apa yang saya pikirkan 13 tahun yang lalu pasti sama apa yang dalam pikiran mereka sekarang. Mereka belum jelas betul apa itu ATRO, apa aja yang dipelajari di ATRO dan dimana mereka bekerja jika sudah lulus nanti.

Pikiran seperti itu ternyata saat ini dimiliki oleh para calon radiografer yang saat ini baru memasuki masa awal perkulihan yang jumlahnya sekitar 15 institusi ATRO (untuk informasi aja, bahwa saat ini sudah ada 15 ATRO di seluruh Indonesia, 2 negeri dan sisanya swasta). Sampai saat ini, dengan 15 ATRO se-Indonesia, berarti akan ada pekerjaan besar buat kami yang berkecimpung di dunia pendidikan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Bukan cuma itu sebenarnya, kami juga harus memikirkan sistem terbaik untuk mereka, sehingga mereka mendapatkan pendidikan yang layak sehingga mereka lulus nanti akan menjadi partner kita yang qualified.

Saya sadar betul, kebutuhan tenaga radiografer di Indonesia akan terbantu untuk terpenuhi dengan berdirinya banyak Institusi ATRO baru di Indonesia, tetapi ini bukan berarti kita mengelola Institusi ATRO ini dengan seenaknya saja, tanpa memikirkan bagaimana program dan sistem terbaik untuk mereka, sehingga tidak terbentuk sebuah well education dalam sebuah Institusi Pendidikan. Ingat ini tanggung jawab kita bersama, karena suatu saat kita akan digantikan oleh mereka, tentunya kita ingin kualitas radiografer pengganti kita-kita yang sekarang ini, lebih baik dari mereka seiring dengan perkembangan teknologi yang akan mereka hadapi.

Untuk menciptakan hal ini, Institusi Pendidikan haruslah memiliki SDM yang handal serta sarana dan prasarana yang menunjang. Ada beberapa Institusi ATRO yang saya tahu persis, tidak memiliki Laboratorium Radiografi di kampusnya sendiri. Ada juga mahasiswa-mahasiswa di beberapa ATRO saat kuliah yang berhubungan dengan radiologi, diajar oleh dosen yang sama sekali tidak memiliki latar belakang ATRO atau radiologi karena kepentingan yayasan. Sekarang bagaimana bisa terwujud sebuah pendidikan yang berkualitas jika hal-hal seperti di atas masih berjalan sampai saat ini.

Teman-teman yang di Pelayanan, tidak kalah penting peranannya dalam menciptakan radiografer muda yang berkualitas. Teman-teman di Pelayanan, harus memberikan sebuah pengetahuan dan pengembangan keterampilan, saat junior-junior kita ini melakukan PKL di tempat teman-teman bekerja, tanpa memandang itu dari ATRO mana. Terkadang kita sebagai senior di tempat bekerja, tidak membimbing mahasiswa dengan baik, malah cenderung senang jika ada anak ATRO yang PKL, kemudian langsung pergi dari ruangan mencari kesibukan lain karena berpikir kan sudah ada anak ATRO yang mengerjakan pekerjaannya. Kita harus sadar bahwa jika dulu kita tidak dibimbing dengan baik oleh senior kita sebelumnya, tidak mungkin kita bisa menjadi seperti saat ini. Sebagai balas budi terhadap senior kita yang membimbing kita dulu, maka bimbinglah junior kita dengan sebaik-baiknya.

Tetapi teman-teman radiografer se-Indonesia jangan dulu berpikir, wah kalau begini ditutup saja ATRO-ATRO swasta di Indonesia, biar cuma ada yang negeri saja, biar lulusannya berkualitas. Saya banyak juga mendapatkan pemikiran seperti itu, apalagi saat saya mau pindah ke ATRO di Padang. Jika ada teman-teman radiografer yang berpikir bahwa kalau tidak ada ATRO swasta maka radiografer di Indonesia bisa berkualitas, maka jawabannya jelas SALAH….. Justru kita akan semakin memperburuk pelayanan radiologi di Indonesia. Sampai saat ini, bahkan dengan banyaknya ATRO di Indonesia, masih banyak pelayanan radiologi di Indonesia yang dilakukan oleh orang-orang yang hanya ikut pelatihan selama 3 bulan (operator), padahal dalam Permenkes 357 tentang SIR dan SIKR jelas mengatakan bahwa pelayanan radiologi hanya boleh dilakukan oleh radiografer dan radiografer itu minimal lulusan D-III. Ini semua karena tenaga radiografer di Indonesia masih kurang.. Teman-teman bisa membayangkan sendiri bagaimana jadinya pelayanan radiologi di Indonesia, jika cuma ada 2 ATRO di Indonesia. Bisa-bisa pelayanan radiologi dilakukan oleh orang yang tidak mengerti Proteksi Radiasi, orang yang tidak tahu bagaimana seharusnya membuat Comparation Radiograph (foto perbandingan untuk kasus-kasus seperti Congenital), orang yang tidak tahu berapa waktu optimum pencucian di developer untuk pencucian manual dan sebagainya. Nah kan lebih parah kalau begitu.

Saya mendengar dari teman yang pulang dari Jepang beberapa tahun yang lalu, Jepang saat itu telah memiliki Institusi ATRO sebanyak 35, padahal wilayah pelayanan radiologi di Jepang jelas kalah luas dengan Indonesia. Artinya ATRO di Indonesia masih bisa menghasilkan lulusan yang berkualitas dan lulusannya masih punya banyak tempat untuk bekerja. Mengenai maraknya berdiri ATRO-ATRO baru biarkan saja, nanti kan ada seleksi alam, ATRO yang tidak memilki manajemen, sistem pendidikan dan program yang bagus, tentu lambat laun akan di tinggal oleh masyarakat dan akhirnya tutup sendiri (sudah ada 1 ATRO yang tutup dan beberapa yang mulai kekurangan mahasiswa).

Jadi sekali lagi, mari kita bantu sepenuhnya proses pendidikan ATRO di Indonesia dengan segala kemampuan yang kita miliki, karena suatu saat mereka akan menjadi pengganti kita dengan kemampuan yang bisa dihandalkan. Adalah sebuah kebanggan buat kita jika lahir sebuah Generasi Baru yang berkualitas dan kita termasuk orang-orang yang ikut andil menciptakan Generasi Baru tersebut.

regards,

nova


Baca Selengkapnya...

Belajar Lagi Yuk.... Teknik Radiografi - Ankle Mortise View

Postingan kali ini merupakan saran dari Sdr Budi, yang menyarankan untuk dibahas mengenai Teknik Radiografi Ankle Joint yang memperlihatkan Mortise View (yang menurut Sdr. Budi jarang didengar dan menurut Sdr. Putu ngga diajarin teorinya dulu). Mau tahu Teknik Radiografinya....

Ankle Joint

Ankle Joint (pergelangan kaki) merupakan persendian yang paling sering mengalami cidera pada orang dewasa. Penentuan bagaimana penanganannya biasanya hanya berdasarkan pemeriksaan klinis dan interpretasi dari foto rontgen.

Anatomi Fisiologi

Stabilitas pada mortise ankle beergantung pada struktur tulang-tulang dan ligamen. Persendian utama berada diantara talus dan cekungan tibia. Talus yang berbentuk seperti pelana kuda sangat pas kedudukannya dengan cekungan tibia dan benturan kecil saja pada keharmonisan dari tibiotalar joint ini akan mengurangi contact area dan akan membebani articular cartilago yang akan menyebabkan arthrosis.

Pada sisi medial talotibial joint di topang dengan kuat oleh medial malleolus dan ligamen medial collateral, yang lebih kuat dari ligamen di sisi lateralnya. Pada sisi lateral terdapat penopang fleksibel yang dibentuk oleh lateral complex yang terdiri dari fibula, syndesmosis dan lateral Collateral bands.



Syndesmosis merupakan serat pengubung antara tibia dan fibula yang dibentuk oleh ligamen tibiofibular anterior dan posterior yang letaknya setinggi cekungan tibia dan ligamen intraosseus yang tebal, berada di bawah membran intraosseus dan terletak 2 cm di atas cekungan tibia dimana ruang kecil bagian superior dari persendian berakhir.
Ligamen tibiofibula anterior dan posterior sering sebut sebagai syndesmosis anterior dan posterior. Ligamen lateral collateral menghubungkan distal fibula dengan talus dan calcaneus. Fleksibilitas dari lateral complex membuat talus dan fibula bergerak dan berputar selama pergerakan normal dari ankle. Pergerakan fibula ini pada syndesmosis merupakan bagian penting dari fungsi normal ankle.

Teknik Radiografi

Proyeksi yang sering digunakan pada pemeriksaan ankle joint adalah AP dan Lateral. Namun untuk memperjelas gambaran radiograf dari ankle khususnya proyeksi AP digunakan proyeksi yang disebut dengan Mortise View. Berikut adalah Teknik Radiografi dari masing-masing proyeksi tersebut.

Proyeksi AP (Kaset ukuran 18x24 Cm, tanpa Grid)

Posisi Pasien

Pasien diminta untuk supine di atas meja pemeriksaan. Untuk pemeriksaan ankle joint ini tidak disarankan diambil posisi pasien erect. Hal ini dikarenakan klinis-klinis yang membawa seseorang di foto ankle joint nya biasanya adalah kasus cidera pada ankle joint yang menyebabkan fraktur, dislokasi maupun ruptur pada ligamen. Jadi posisi pasien yang erect dikhawatirkan akan menambah rasa sakit pada pasien.





Posisi Objek

Bagian pertengahan ankle diposisikan pada pertengahan kaset dengan jari-jari kaki menghadap ke atas. Untuk proyeksi AP ini, kaki tidak dirotasikan kemana pun, jadi minta pasien untuk menahan posisi jari-jari kaki menghadap ke atas ini selama pemeriksaan berlangsung.










Central Ray (CR) dan Central Point (CP)

CR diarahkan tegak lurus vertikal terhadap kaset dengan CP pada pertengahan dari kedua malleolus (medial dan lateral malleolus). Malleolus adalah bagian yang terasa menonjol pada bagian samping dari ankle joint. Medial malleolus merupakan tonjolan yang bisa terasa pada sisi bagian dalam ankle joint yang merupakan milik dari os Tibia sedangkan Lateral malleolus merupakan tonjolan yang bisa terasa pada sisi bagian luar ankle joint yang merupakan milik dari os Fibula.





Kriteria Gambaran

- Tampak Ankle Joint pada proyeksi AP, tanpa mengalami rotasi

- Tampak kira-kira 1/3 distal dari Os Tibia dan Fibula

- Tampak Os Tibia bagian lateral overlap dengan Os Fibula

- Ossa Pedis tidak begitu jelas terlihat, hanya talus yang jelas terlihat






Proyeksi Lateral

Posisi Pasien

Pasien diposisikan duduk di atas meja pemeriksaan dengan kedua tungkai kaki diluruskan.


Posisi Objek

Tungkai kaki dari ankle joint yang akan diperiksa dirotasikan lateral sesuai dengan bagian mana yang terasa sakit. Jika bagian medial yang sakit, maka rotasikan kaki sehingga bagian medial menempel pada kaset, begitu sebaliknya. Bagian tungkai kaki yang tidak diperiksa, difleksikan sehingga menjauhi ankle joint yang akan diperiksa. Kedua lengan tangan menempel pada meja pemeriksaan. Ini semua dimaksudkan agar pasien merasa nyaman dengan posisi ini.

Central Ray (CR) dan Central Point (CP)

CR diarahkan tegak lurus vertikal terhadap kaset. Pada proyeksi mediolateral (sinar lebih dulu mengenai sisi medial) maka CP pada Medial Malleolus, kemudian pada proyeksi lateromedial (sinar lebih dulu mengenai sisi lateral) maka CP pada Lateral Malleolus.



Kriteria Gambaran

- Tampak gambaran dari ankle joint proyeksi lateral

- Tampak Os Tibia dan Fibula Overlap pada bagian distalnya

- Tampak Calcanus pada proyeksi lateral

- Tampak space antara talus dengan tibia dan fibula (talo-tibiafibular joint)





Proyeksi Mortise View

Posisi Pasien

Sama seperti proyeksi AP, pasien pada proyeksi mortise view diminta untuk supine di atas meja pemeriksaan.

Posisi Objek

Bagian pertengahan ankle diposisikan pada pertengahan kaset kemudian kaki di rotasikan ke arah dalam (endorotasi) sebesar 15 derajat. Hal ini dimaksudkan supaya ketinggian lateral malleolus sejajar dengan medial malleolus (dalam keadaan kaki lurus tanpa rotasi, lateral malleolus lebih rendah dibandingkan dengan medial malleolus), sehingga nantinya akan memperlihatkan dengan jelas kedua space persendian baik lateral maupun medial.







Central Ray (CR) dan Central Point (CP)

CR diarahkan tegak lurus vertikal terhadap kaset dan CP nya pada pertengahan kedua malleolus.



Kriteria Gambaran
- Tampak kedua space persendian baik lateral maupun medial jelas terlihat, tanpa mengalami overlap terutama pada lateral malleolus

- Tampak 1/3 distal dari os tibia dan os fibula

- Tampak ossa tarsalia mengalami overlap satu sama lain, karena posisi oblique akibat endorotasi







Perbandingan foto antara foto ankle joint proyeksi AP dengan Mortise View



Pada perbandingan foto di atas dapat dilihat bahwa foto ankle joint proyeksi AP mengalami overlap pada daerah lateral malleolus. Pada foto proyeksi mortise view, tampak dengan jelas space dari persendian di ankle joint pada sisi medial dan sisi lateral.



Interpretasi Radiograf dari Beberapa Kasus Pada Foto Ankle Joint

Pada foto disamping, tampak fraktur pada medial malleolus. Fraktur jenis ini dapat disebut dengan avulsion fraktur. Dari letak fraktur yang berada di medial malleolus meng-indikasikan bahwa saat terjadi cidera, kaki berada pada posisi pronasi. Oleh karena itu cidera seperti ini disebut dengan pronation exorotation injury (PER) tingkat 1 atau lebih.


Pada foto disamping, tampak fraktur transversal yang memanjang dari lateral malleolus sampai ke talus (lihat panah)









Pada foto disamping, tampak erjadi dislokasi pada ankle joint akibat fraktur pada kedua malleolus. Lateral malleolus terdorong dari anterior ke posterior. Fraktur dimulai dari ankle joint dan terus ke arah proximal.




Demikian belajar teknik radiografi Ankle Jointnya, lain kali kita sambung ya dengan tema yang lain lagi, buat teman-teman yang ingin download artikel ini dalam bentuk PDF yang sudah rapih, silahkan download disini


Baca Selengkapnya...

63 TAHUN INDONESIA MERDEKA

Hari ini Bangsa Indonesia memperingati 63 Tahun kemerdekaannya. 63 Tahun bukanlah usia yang muda lagi, Indonesia harus banyak berbenah dengan usianya yang sekarang... Dirgahayu Republik Indonesia

regards,

nova



Baca Selengkapnya...

Belajar Baca Foto Thorax Yuk....

Siapa radiografer yang ngga pernah bikin foto thorax, saya yakin semua pernah khan... tapi apa semua radiografer bisa baca foto thorax? jawabannya mungkin ngga semua bisa, masalahnya Ilmu membaca foto ini dipelajari oleh Dokter Ahli Radiologi (Radiolog), tapi itu bukan berarti radiografer ngga harus tahu, justru harus tahu kan... nah pada kesempatan ini saya akan mencoba untuk mengajak semua radiografer untuk belajar bersama (saya juga mash belajar) untuk membaca foto thorax, terutama foto thorax yang memberikan gambaran hitam pada paru, mau tahu.....

Teman-teman mungkin sudah banyak yang tahu kalo membaca foto thorax yang memberikan beberapa warna putih. Tapi untuk foto thorax yang memberikan warna hitam sepertinya agak sulit di analisa, karena memang dasarnya gambaran paru-paru itu memang hitam (lucent). Nah mari kita mulai belajarnya...

Gambaran Hitam Pada Paru-Paru
Gambaran Hitam pada paru-paru bisa disebabkan beberapa diagnosa berikut yaitu :
1. Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD)
2. Pneumothorax
3. Tension Pneumothorax
4. Pulmonary Embolus
Untuk lebih jelasnya bagaimana bentuk gambaran hitam pada paru-paru dari masing-masing diagnosa diatas, mari kita lihat satu persatu.

1. Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD)



Ini adalah Foto Thorax dengan pasien COPD. Kedua lapangan paru terlihat lebih hitam dan lebih besar secara volume dibandingkan dengan gambaran normal. Hemidiafragma terlihat rata dan pada bagian tengah dan terdapat bullae di bagian tengah paru. Lebih sedikit pembuluh darah yang terlihat secara peripheral terutama di bagian atas dan tengah, tetapi arteri pulmonari terlihat besar di pertengahan, menandakan adanya perkembangan hipertensi arterial pulmonari lanjutan.

Jika kita mau menentukan penyebab adanya bayangan hitam pada kedua lapangan paru, maka yang perlu kita perhatikan adalah :

Perhatikan masalah daya tembus. Lihat pada corpus vertebrae yang berada di belakang jantung. Ingat bahwa sinar-x yang daya tembusnya besar akan memberikan gambaran corpus vertebrae lebih keras di belakang bayangan jantung. Jika corpus vertebrae tersebut terlihat sangat jelas, maka ini berarti daya tembus sinar-x terlalu tinggi. Hal ini akan menyebabkan gambaran paru terlihat hitam. Jika ini terjadi maka COPD tidak bisa dinilai karena penyebab gambaran paru terlihat hitam bukan karena penyakit tetapi karena over expose.

Namun jika kita merasa bahwa faktor eksposi yang kita gunakan sudah tepat, maka penyebab gambaran hitam pada kedua lapangan paru kebanyakan adalah karena COPD. COPD ditandai dengan pembesaran paru-paru yang disebabkan karena adanya udara yang terjebak dan berkembangnya bullae (bullae adalah istilah medis untuk gelembung yang dilapisi oleh kulit dan didalamnya terpat udara atau cairan). Untuk memastikan bahwa ini COPD maka harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1. Hitung jumlah costae yang telihat secara anterior. Jika paru-paru membesar, maka kita dapat menghitung costae lebih dari tujuh. Hati-hati dalam perhitungan ini, sebab kadang-kadang pada pasien normal, kita juga dapat menghitung costae lebih dari tujuh.

2. Lihat bentuk diafragma. Pada kasus COPD diafragma terlihat flat bahkan kadang-kadang membuka ke atas. Hal ini lebih memudahkan dalam penandaan adanya hiper ekspansi daripada menghitung jumlah costae.

3. Lihat bentuk dari jantung. Thorax yang mengalami pelebaran pada kasus COPD akan membuat sinar-x menjadikan jantung menjadi elongasi dan terlihat mengecil, terangkat dari batas bawahnya.

4. Lihat Bullae. Terdapat daerah hitam yang jelas pada paru-paru biasanya terlihat melingkar, dikelilingi oleh bayangan garis rambut. Bullae menekan paru-paru normal dan menyimpangkan pembuluh-pembuluh darah yang berada disekeliling paru-paru jadi untuk melihat bullae ini cari daerah yang terdapat penyimpangan pembuluh darah, biasanya di situ terdapat bullae.

5. Lihat tanda-tanda paru. Paru-paru yang hitam karena COPD biasanya diiringi oleh menurunnya tanda-tanda paru. Penurunan tanda-tanda paru ini terjadi pada kedua lapangan paru (bilateral) dan menyebar secara lurus mulai dari hilum yang menjadi pendek dan tebal hingga ke peripheral.

2. Pneumothorax



Pasien di atas mengalami pneumothorax pada sisi sebelah kiri dengan kolaps sebagian pada paru kiri. Lapangan paru luar terlihat hitam. Dapat kita lihat ujung paru yang berwarna hitam (tanda panah).

Penyebab Pneumothorax :
- Spontanitas (tiba-tiba saja terjadi)
- Latrogenic/Trauma misalnya benturan pada pleura, biopsi pada transbronchialis, pemasukan garis vena pusat, ventilasi mekanis.
- Penyakit paru obstruktif misalnya asma, COPD
- Infeksi misalnya pneumonia, tuberculosis
- Cystic fibrosis
- Connective tissue disorders misalnya Marfan’s , Ehler-Danlas

Jika kita melihat adanya gambaran hitam pada paru yang unilateral (hanya pada satu sisi paru saja) maka yang perlu kita perhatikan adalah :

1. Perhatikan kualitas film. Film yang memilki basic fog tidak merata akan menyebabkan film terlihat hitam sebagian.

2. Tentukan sisi mana yang mengalami kelainan. Hal ini biasanya mudah ditentukan dimana sisi yang mengalami pengurangan tanda-tanda paru merupakan sisi yang mengalami kelainan.

Sekarang kita harus menentukan penyebab kehitaman terjadi. Tanda-tanda paru sebenarnya merupakan pembuluh darah dan tidak adanya tanda-tanda paru menyebabkan paru-paru terlihat hitam. Gambaran pembuluh darah akan hilang jika paru ditutupi oleh udara yang akan terjadi bersamaan dengan pneumothorax, bullous atau cystis lung disease (penyakit paru cystis) atau jika pembuluh darah kekurangan darah sebagaimana terjadi pada emboli pulmonari. Lalu untuk membedakan antara pneumothrax, bullous/cyst dan emboli pulmonari, maka harus diperhatikan :

1. Lihat ujung paru. Pada pneumothorax kita dapat melihat ujung dari paru terlihat tidak normal. Perhatikan lebih seksama bagian atas, dimana udara akan terakumulasi pertama kali. Mata kita terlatih untuk melihat garis horisontal lebih baik dibandingkan dengan melihat garis vertikal sehingga kadang-kadang lebih mudah mendeteksi ujung paru apabila foto thorax tersebut diputar sehingga ujung paru berada di atas dan dibawah bukan di kanan dan di kiri.

2. Lihat Mediastinum. Mediastinum yang tampak, bergeser dari paru yang berwarna hitam, menandakan berkembangnya tension pneumothorax. Ini merupakan emergensi medis dan kita harus dengan segera memeriksa kembali pasien tersebut.

3. Lihat sisa paru yang ada. Bullous disease tampak berkurang jika sisa paru yang ada tampak normal.

4. Perbedaan antara pneumothorax dan bullae bisa sangat sulit dan seringkali tidak mungkin. Lihat lagi dengan seksama tanda-tanda paru. Jika kita melihat tanda-tanda paru tadi menyilang di atas daerah paru yang berwarna hitam, maka kemungkinan kita sedang melihat bullae. Jika kita melihat tanda-tanda paru mulai dari peripheral sampai daerah paru yang berawarna hitam, maka itu juga kemungkinannya adalah bullae.

5. Minta pasien untuk melakukan ekspirasi saat foto thorax diambil. Pada umumnya Thorax akan terlihat lebih kecil saat ekspirasi, namun pada pneumothorax, thorax terlihat lebih besar saat ekspirasi.

3. Tension Pneumothorax




Pasangan foto thorax diatas menunjukkan adanya potensi kondisi yang fatal dari tension pneumothorax (pneumothorax yang disebabkan karena adanya penekanan). Pada Foto Inspirasi, paru kanan semuanya kolaps, tetapi mediastinum berada ditengah. Pada Foto Ekspirasi, udara terjebak di hemithorax kanan di bawah tekanan positif, jantung dan paru kiri tertekan ke arah kiri. Vena balik jantung mengalami obstruksi dengan potensi hasil yang fatal jika cavum pleura tidak segera dikeringkan.

Jika kita mencurigai adanya pneumothorax sebagai penyebab gambaran hitam pada lapangan paru, kita harus memperhatikan dengan baik apakah gambaran hitam tersebut berada dibawah tekanan sebagaimana halnya emergensi medis. Jika memungkinkan lihat pd film ekspirasi dan :

1. Lihat ukuran kehitaman paru. Pada tension pneumothorax paru-paru yang berwarna hitam biasanya sangat besar.

2. Lihat posisi mediastinum. Pada tension pneumothorax mediastinum akan bergeser dari paru yang mengalami tension pneumothorax.

3. Lihat bentuk mediastinum. Lihat pada ujung dari paru yang berwarna hitam. Jika dia cekung ke arah yang berwarna hitam, maka dicurigai adanya tension pneumothorax.

4. Selalu ingat pada pasien. Tension Pneumothorax bisa berkembang kapan saja dan jika pasien tiba-tiba mengalami stres, maka gambaran tension pneumothorax bisa hilang saat diambil foto thorax pada kondisi stres ini, padahal pasiennya masih memiliki tension pneumothorax.

4. Pulmonary Embolus (PE)



Foto thorax di atas diambil dari pasien yang mengalami pembesaran pulmonary embolus akut. Perhatikan dengan baik pada daerah kanan atas. Mendadak muncul fissura horisontal dimana daerah tersebut terlihat lebih hitam dibandingkan dengan bagian kiri pada tinggi yang sama (tanda panah). Ini merupakan Westermark’s sign dari perfusi yang berkurang pada daerah paru yang mengindikasikan bahwa arteri pada daerah ini mengandung gumpalan besar. Perhatikan juga daerah konsolidasi dibawah fissura horisontal, merupakan titik kecil dari infarksi.

Ingatlah untuk selalu memeriksa kualitas film yang digunakan. Hal ini menjadi penting sebab perubahan densitas yang diakibatkan oleh pulmonary emboli sulit dibedakan dengan perubahan densitas yang diakibatkan tidak sempurnanya pengambilan foto. Jika kita mencurigai adanya PE sebagai penyebab kehitaman pada paru-paru, maka kita harus :

1. Periksa tanda-tanda yang dihasilkan oleh COPD maupun pneumothorax. Kita harus memisahkan kehitaman yang dihasilkan karena kedua diagnosa tadi.

2. Tentukan apakah daerah paru yang mengalami penghitaman itu melingkar dan tidak tersebar luas. Embolus di dalam arteri pulmonalis hanya akan memberikan efek pada bagian-bagian yang disuplai oleh arteri dan tidak menyebabkan hal lainnya. Sangat mungkin jika terjadi emboli pada daerah yang sangat luas, akan terjadi gambaran hitam pada keseluruhan lapangan paru, namun jika hal ini terjadi lupakan pemeriksaan sinar-x, karena dalam keadaan seperti ini, pasien berada pada posisi yang sangat berbahaya, dekat dengan kematian.

3. Lihat sisa dari paru. Perfusi yang rendah (under perfusion) pada daerah yang mengalami pulmonary emboli akan menyebabkan perfusi yang tinggi (over perfusion) pada bagian paru yang lain dan akan meningkatkan densitas pada bayangan vascular. Akan sangat membantu jika dibandingkan dengan foto sebelumnya yang pernah dibuat.

4. Perhatikan arteri pulmonari dan bayangan jantung. Sebuah pulmonary emboli akut akan menyebabkan dilatasi pada arteri pulmonari terutama pada ventrikel dan atrium kanan. Arteri pulmonari akan bertambah besar dan bisa menyebabkan pembesaran juga pada bayangan jantung.

5. PE merupakan hal yang jarang yang menyebabkan paru-paru berwarna hitam dan biasanya diikuti dengan perubahan pada infarksi yang akan dijelaskan lebih lanjut, atau bisa juga tidakmenyebabkan perubahan apapun. Maka, kecuali pasiennnya berada pada kondisi yang tidak baik, pikirkan kembali mengenai penyebab lain mengapa paru-paru berwarna hitam karena penyebab lain tersebut jauh lebih mungkin sebagai penyebab paru-paru berwarna hitam.

Perubahan Infarksi
Meskipun PE menyebabkan paru-paru berwarna hitam biasanya kita akan melihat bahwa PE menyebabkan perubahan infarksi, mengarahkan kita pada hemoragic atau nekrosis paru. Ini akan menyebabkan perubahan pada foto sebagai berikut :
- Hemidiafragma yang meningkat
- Kolaps dan linier alectasis
- Effusi Pleura
- Bayangan yang bertingkat

Nah demikian belajar bersamanya mengenai baca foto thorax, lain kali disambung lagi ya, makanya sering-sering nongkrong disini pasti banyak manfaatnya.

Buat yang ingin artikel ini, silahkan download disini

regards,

nova

Baca Selengkapnya...

Selamat Menempuh Hidup Baru


Saya selaku pendiri Tempat Nongkrong Radiografer se-Indonesia beserta seluruh radiografer yang sering nongkrong disini, mengucapkan Selamat Menempuh Hidup Baru Buat Putu Adi Susanta (Radiografer dari RSU Sanglah Denpasar Bali) ang beru saja melangsungkan pernikahannya pada 08.08.08 kemarin

PUTU ADI SUSANTA merupakan seorang Radiografer Lulusan ATRO Dep.Kes RI Semarang Tahun 2001, Pada Tanggal keramat kemarin yaitu tanggal 08 bulan 08 dan tahun '08, Putu melangsungkan Pernikahan dengan seorang wanita pujaan hatinya, semua teman-teman di undang melalui blognya PUTU di www.putuadisusanta.blogspot.com, saya kalo ngga sibuk pasti sudah datang ke BALI buat menghadiri pernikahan PUTU. Sekali lagi saya ucapkan selamat buat PUTU, semoga kalian langgeng dan abadi. Ingat pesan saya ya, jika nanti kalian ada masalah-masalah kecil, jangan diperbesar, ingat-ingat aja kenangan manis kalian supaya amarah itu menjadi reda. Komunikasi harus selalu lancar, jangan pernah bercerita atau berdiskusi dengan pasangan kita, karena cuma ini satu-satunya yang akan membuat kalian menjadi terus bersama baik dalam suka maupun duka....

regards,

nova

Baca Selengkapnya...

Memperbaiki Sendiri Pesawat Mobile X-Ray

Kira-kira satu minggu yang lalu, saya dihadapkan pada sebuah masalah, yaitu Pesawat Mobile X-Ray di Laboratorium Radiografi ATRO Padang rusak, X-Ray nya ngga mau keluar. Setelah diselidiki oleh Teknisi kami, ternyata Pesawat Mobile X-Ray tersebut bisa lagi digunakan, mau tahu bagaimana trouble shooting nya....

Pesawat Mobile X-Ray kami adalah Multimobile Pabrikan dari Siemens. Pesawat Mobile X-Ray jenis ini diproduksi Siemens dengan Spesifikasi yang agak unik menurut saya, karena setelah saya lihat lebih seksama, ternyata di Tabung tertulis "Made In India" padahal setahu saya, Siemens itu kan Perusahaan yang berada di Jerman. Setelah saya cari info, ternyata pesawat jenis ini hanya diperuntukkan untuk Pasar Asia terutama Asia Tenggara.

Dari sini sebenarnya saya sudah mulai ragu, apakah Pesawat ini mampu menahan beban yang begitu berat akibat Jadwal Praktikum kami yang sedemikian padatnya. Sejak awal pembelian, masalah yang sering timbul adalah matinya lampu kolimator, biasanya karena terlalu panas (maklum mahasiswa masih sangat bergantung sama yang namanya lampu kolimator), masalah ini terselesaikan, karena yang pertama cukup mudah solusinya, sekring (fuse) untuk lampu kolimator putus, jadi tinggal ganti langsung beres. Beberapa waktu kemudian, lampu kolimatornya mati lagi, kali ini fuse tidak putus. Setelah dibongkar Control Panel nya, ternyata, socket yang memberikan arus ke lampu kolimator, terbakar... wah..wah.., sampe meleleh plastik socketnya. Ternyata socket yang digunakan bukan terbuat dari kuningan yang tahan panas, hingga solusinya, socket diganti dengan yang dari kuningan, Alhamduillah masalah lampu kolimator, ngga pernah lagi ada sampai sekarang.

Menjelang Ujian Praktek, timbul masalah baru lagi, tiba-tiba di Control Panel muncul tulisan Code E03 (artinya Kode Error 03). Setelah diselidiki, code error 03 ternyata berasal dari sebuah Board dimana Board ini berfungsi untuk memanaskan filamen. Alhasil X-Ray ngga akan keluar (gimana bisa keluar lha wong pemanasan filamennya aja ngga ada, otomatis ngga ada elektron yang dihasilkan untuk menumbuk target, masih inget khan proses terjadinya sinar-x?. Setelah itu, coba diperiksa oleh Teknisi kami (Sdr. Catur Suharinto, thanks banget buat Ilmunya), sambil membuka control panel, sambil melakukan konsultasi jarak jauh dengan teknisi PT Siemens Indonesia by Phone, setelah beberapa saat tanya jawab, ternyata belum juga mendapatkan hasil yang memuaskan, karena Manual Service Book yang dimiliki kami beda sama yang dilihat Teknisi Siemens saat itu.


Pesawat Multimobil Yang Sedang Dibuka Control Panelnya

Besoknya, Teknisi kami kedatangan teman yang Teknisi juga dari PT Fondaco. Mereka berdua berdiskusi sampai malam, sambil mengeluarkan Osiloskop (alat untuk mendeteksi signal sinusoidal), dari situ diketahui bahwa ada Transistor IGPT yang rusak. Kemudian kami tanya, dimana mendapatkan transistor tersebut. Ternyata transistor tersebut ngga ada di Indonesia, kami sudah cari ke Jakarta dan Surabaya (tempat komponen elektronik terbesar di Indonesia) juga tidak ada. Akhirnya kami mendapatkan info dari sebuah rekanan, barang tersebut bisa dipesan melalui Perusahaannya tetapi itu juga harus indent selama satu minggu, karena transistor tersebut harus di datangkan dari Singapura. Weleh-weleh, susahnya mendapatkan transistor tersebut.


Bagian Atas Control Panel

Mungkin teman-teman bertanya, kenapa kok susah-susah memperbaiki sendiri, telepon aja PT Siemens Indonesia, pasti beres... Sebenarnya kami juga sudah minta bantuan PT Siemens Indonesia, tetapi PT Siemens hanya bisa memperbaiki dengan cara mengganti keseluruhan Board (kalo perusahaan besar dan resmi pasti begitu cara kerjanya, langsung diganti satu blok) dan biaya yang harus kami keluarkan untuk mengganti satu Board tersebut adalah Rp. 60.000.000,- wah sebuah angka yang fantastis. Kami berusaha memperbaiki sendiri, bukan karena ngga punya uang sebesar itu, cuma saya ini terlahir dengan kesederhanaan, dimana kalo barang yang rusak masih bisa diperbaiki sendiri, ya saya coba dulu.


Board Yang Dimaksud

Setelah menunggu satu minggu, akhirnya barang tersebut tiba (kami harus pesan 10 buah transistor). Kemudian Teknisi kami memasangnya, dan Alhamdulillah, Pesawat Multimobil kami bisa digunakan lagi sampai sekarang. Begitu pesawatnya betul, langsung di gunakan untuk Praktikum mahasiswa yang jumlahnya 46 Mhs, itu berarti 46 kali eksposi, benar-benar sebuah pengujian yang hebat, baru betul pesawatnya langsung dipake 46 kali eksposi. Saya menceritakan ini semua sebenarnya hanya bermaksud baik, jika ada teman-teman yang mempunai problem yang sama, maka sebaiknya jangan langsung menyerah, coba dulu semaksimal mungkin, siapa tahu berhasil dan mendapatkan biaya perbaikan yang tidak mahal, atau jika ada teman-teman yang memiliki Pesawat Multimobil Buatan Siemens, bisa konsultasi lewat kami, atau bisa menghubungi kami, mudah-mudahan bisa kami bantu, dan tentunya kalau berhasil, biaya yang dikeluarkan jadi lebih murah, iya ngga?

regards,

nova

Baca Selengkapnya...

KONSEKUENSI TAK MEMBANGUN PLTN

Sampai 2020 idealnya Indonesia memerlukan tambahan kapasitas pembangkit -di luar yang sedang dibangun- sebesar 40 ribu Megawatt (MW) untuk memenuhi rasio elektrifikasi melebihi 90 persen, atau pertumbuhan 9 persen per tahun.

Dilihat dari skalanya persoalan penyediaan listrik terbesar adalah di Jawa-Bali yang memerlukan tambahan kapasitas 70 persen nasional yaitu lebih 25 ribu MW sampai 2020. Jika memperhitungkan sampai 2030 kebutuhan tambahan kapasitas Jawa-Bali sekitar 80-90 ribu MW. Energi primer yang dapat dimanfaatkan untuk tambahan kapasitas di Jawa Bali adalah panas bumi, gas alam, dan batu bara yang didatangkan dari luar Jawa-Bali.

Cadangan energi setempat yang ada sangat terbatas yaitu panas bumi yang kira-kira berpotensi paling banyak 4.000 MW, dan tenaga air dari sumber yang kecil-kecil dengan potensi tersisa maksimum 1.000 MW. Alternatif pemanfaatan gas alam tampaknya kecil sekali, karena sampai saat ini untuk pembangkit yang sudah ada, dan yang sedang dibangun saja pasokan gasnya sulit disediakan. Energi primer lainnya yang mungkin adalah memanfaatkan gas alam cair (LNG), baik dari sumber domestik ataupun impor. Jika menggunakan LNG dengan harga pasar saat ini yang sudah mencapai USD9 per MMBTU maka biaya produksi pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) akan jatuh pada kisaran US$10 sen per kilowatt jam, yang tidak kompetitif terhadap pembangkit tenaga batu bara, dan nuklir.

Dengan kondisi keberadaan energi primer seperti tersebut, maka untuk keperluan penyediaan listrik di Jawa-Bali tenaga air, panas bumi, dan gas alam ataupun LNG [untuk peaking] paling banyak adalah 20 persen. Ini berarti 80 persen lagi yaitu sekitar 60-70 ribu MW lagi jika sama sekali tidak membangun PLTN, maka pilihan satu-satunya tinggal PLTU. Karena cadangan batu bara ada di luar Jawa-Bali, ada dua opsi yang mungkin dikembangkan. Pertama, membangun PLTU mulut tambang di Sumatra, dan mengirim listriknya ke Jawa.

Opsi ini layak terutama jika menggunakan batubara kalori rendah dan memerlukan pembangunan transmisi arus searah [High Voltage Direct Current: HVDC] karena jaraknya yang jauh sekitar 700 kilometer. Karena transmisinya memerlukan ROW yang cukup lebar kemungkinan untuk opsi ini hanya 3-4 lokasi masing-masing 3000-4000 MW. Opsi kedua adalah mendatangkan batu bara dari Kalimantan dan Sumatra. Saat ini sudah ada 14 lokasi PLTU, empat sudah beroperasi. Tambahan kapasitas 60 ribu MW idealnya memerlukan 20 lokasi. Jika sebagian dilakukan pengembangan di lokasi yang sudah ada, masih diperlukan sekitar 15 lokasi baru lagi.

Persoalan yang akan dihadapi adalah pengadaan lahan berikut sarana pelabuhan, dan permasalahan lingkungan khususnya kualitas udara akibat debu dan cendawan asap. Jika demikian, konsumsi batu bara untuk ketenagalistrikan yang saat ini 30 juta ton per tahun, pada 2030 akan mencapai 300 juta ton per tahun. Jumlah tersebut sangat besar. Perlu pengkajian lebih dalam apakah cadangan terbukti mencukupi, apakah mungkin ditransportasikan secara lancar dan aman. Melihat rasio cadangan dan produksi, dengan tingkat produksi seperti sekarang saja penyediaan energi primer maksimum hanya aman dalam waktu 30 tahun saja.

Jika tingkat produksi atau konsumsinya lebih tinggi penyediaan energi primer lebih tidak aman lagi. Dengan demikian jelas bahwa jika mengandalkan batu bara saja, pasokan dan cadangan energi primer dalam negeri tidak aman. Ancaman fluktuasi dan melonjaknya biaya produksi, juga bakal terjadi. Guncangan harga minyak yang sewaktu-waktu terjadi, tetap akan mempengaruhi harga batubara dan gas alam. Hal ini berpotensi mengganggu perekonomian, baik karena kenaikan harga listrik ataupun keperluan subsidi yang sewaktu-waktu membengkak. Karena itu, PLTN sangat dibutuhkan.

Mempelajari pengalaman negara lain seperti China , pembangunan PLTN pertama dari mulai keputusan membangun sampai beroperasi memakan waktu minimal 10 tahun. Berati jika sekarang kita putuskan untuk membangun, paling cepat PLTN beroperasi pada 2018.Makin lambat pembangunannya, semakin besar ancaman penyediaan listrik. Dalam Peraturan Pemerintah No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, pemerintah telah menetapkan rencana pembangunan PLTN.

Tentunya pemerintah telah memiliki pertimbangan dalam membuat keputusan tersebut. Selanjutnya para pemangku kepentingan yaitu pemerintah, DPR, para ahli energi dan nuklir, cendekiawan, dan generasi muda perlu duduk bersama menyepakati kapan PLTN pertama Indonesia beroperasi. Pemangku kepentingan terpenting adalah generasi muda yang berusia di bawah 25 tahun. Generasi yang sekarang sudah di atas 50 tahun kemungkinan besar tidak akan merasakan konsekuensi yang terjadi jika PLTN tidak dibangun.

Kita harus mencegah adanya penyesalan kelak setelah 10-20 tahun mendatang yang nanti bisa menghadapi kenyataan penyediaan listrik tidak aman, biaya produksi mahal dengan mengatakan kenapa generasi ayah atau kakeknya dulu tidak membangun PLTN. Jika diputuskan membangun PLTN, kiranya dapat dilakukan pengamanan terhadap risiko yang dikhawatirkan, dengan belajar dari negara yang sudah berpengalaman.

Kita dapat mengikuti konsep yang telah diterapkan Korea Selatan dan China yaitu memilih dan menetapkan satu saja disain standar PLTN untuk dibangun secara serial berturut-turut. China memiliki 11 reaktor PLTN yang sudah beroperasi, 5 reaktor dalam pembangunan, dan telah merencanakan pembangunan 30 reaktor dalam 15 tahun ke depan masing-masing 1000 MW.

Kemudian, dipilih PLTN dengan teknologi yang sudah teruji dan terbukti aman, dan yang mendapat lisensi dari regulator di negara asalnya. Kita perlu dan boleh khawatir terhadap risiko PLTN, tapi jangan sampai harus membayar mahal di masa datang yang karena ketakutan sampai membuat keputusan yang tidak tepat. Mungkin perlu kita renungkan apa yang dikatakan Franklin D. Rosevelt: "What we have to fear is the fear it self". Oleh: Herman Darnel Ibrahim Ketua Komite Nasional Indonesia Dewan Internasional Sistem Tenaga Listrik Besar.
Sumber : Koran Jurnal Nasional Kamis, 12 Juni 2008, Hal. 10 Kol. 2)

Baca Selengkapnya...

SEMINAR DAN WORKSHOP RADIOLOGI

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan pesan singkat melalui blog ini dari dr. Diana (RS. Sardjio Yogyakarta) yang memberitahukan mengenai adanya Seminar yang berhubungan dengan bidang Radiologi, nah sekarang info nya baru lengkap, mau tahu....

FK UGM bekerjasama dg bagian radiologi RS.Dr.Sardjito Jogja mengadakan :

Seminar dan Workshop Radiologi bertema "Basic Understanding of plain photo and head CT-scan imaging on clinical setting"

Waktu : Tanggal 31 Agustus 2008

Tempat : Audit 2 FK UGM Jogjakarta

AKREDITASI IDI 10 SKP (seminar+workshop)

Undangan ditujukan untuk dokter umum, residen, perawat, radiografer, dokter muda dan mahasiswa

A.seminar (4 SKP)--> 07.30 - 13.00 WIB
Pembicara Seminar :

1. Prof.dr. H. Arif Faisal Sp.Rad (K), DHSM (guru besar FK UGM, direktur RS.Soeradji Tirtonegoro Klaten)

2. dr. Henry Kusumo Husodoputro, Sp.Rad (K) (Quality assurance in radiology department Medical Faculty of Gadjah Mada University)

3. dr.H. Bagaswoto Poedjomartono, Sp.Rad (K), Sp.KN (Ketua Program Studi Radiologi FK UGM - staf pengajar FK UGM)

B.Workshop (6 SKP) --> 13.15 - 16.30 WIB
Pemateri workshop : sama dengan pemberi materi Seminar

Contribution fee :
1.seminar : Rp. 90.000 (nurse / radografer)
2.workshop : Rp.150.000 (for all participants) --> tempat terbatas

for detail info or ticket reservation please call 08562548044 (prima)

Baca Selengkapnya...

Kabar Terbaru Keppres Mengenai TBR

Para pengunjung blog ingin tahu sampai dimana perjalanan revisi Keppres mengenai Tunjangan Bahaya Radiasi (TBR)......

Pada seminar PARI kemarin di Banten, ternyata terungkap bahwa perjalanan revisi Keppres mengenai TBR saat ini masih berada di Kepala Biro Hukum Depkes RI. Saat itu di Banten, disampaikan oleh Netty Pakpahan, S.H, M.H, bahwa saat ini sebenarnya draft tersebut sudah final, namun masih ada beberapa revisi yaitu pada Pasal 1, Pasal 5 dan Pasal 6. Pasal 1 membahas mengenai Tenaga Kesehatan apa saja yang berhak menerima TBR, ini masih terus dibahas karena banyak profesi kesehatan lain yang menginginkan TBR ini juga. Pasal 5 membahas mengenai berapa jumlah kenaikan TBR tersebut, ini juga masih dibahas secara detil karena ini melibatkan APBN, Jumlah yang diusulkan untuk Tingkat IV (radiografer dan profesi yang berhubungan langsung dengan radiasi)adalah sebesar Rp. 1.350.000. Terakhir Pasal 6 Membahas mengenai kemungkinan bisa mendapatkan Tunjangan lain setelah menerima TBR.

Kalau saya pribadi melihat, posisi usulan revisi ini sepertinya masih sama seperti waktu saya menghadiri Kongres PARI di Hotel Sari Pan Pacific. Waktu juga masih sama yang dibahas pasal-pasalnya yang berkaitan dengan itu. Kemudian kalau menurut rentang waktunya seharusnya saat ini draft usulan tersebut sudah di bahas di tingkat antar departemen yaitu Depkes, Depkeu dan MenPan.

Ya kita lihat saja nanti, saya mendukung penuh kerja teman-teman di Pusat. Semoga menjadi kenyataan

regards,

nova

Baca Selengkapnya...

Peserta Kuliah Online Perdana

Setelah dibuka kurang lebih satu minggu yang lalu, akhirnya telah mendaftar beberapa orang untuk menjadi peserta kuliah Online yang Perdana, siapa saja orangnya....

Dang Merdu
Lulusan Akademi teknik radiodiagnostik dan radioterapi tahun 1997
Bekerja di Klinik International Global Doctor sebagai Radiografer

I Putu Adi Susanta
Lulusan ATRO mana dan Tahun Berapa : ATRO Depkes Semarang tahun 2001
Sekarang bekerja di mana dan sebagai apa : RSUP Sanglah Denpasar sebagai radiografer

Purwanto
Mahasiwa ATRO Makassar, Tahun Masuk 2006

Hidayat Syah Alam
Pekerjaan : Radiografer (Lab. Klinik Pramita Utama Yogyakarta).

Fitria Wulandari
Lulusan ATRO mana dan Tahun Berapa : D III hiperkes dan KK Udinus th 2003
Sekarang bekerja di mana dan sebagai apa : Lab kesh udinus

Ahmadi Khafit Wibowo, AMR.
Alumnus ATRO Citra Bangsa tahun 2006.
Kerja di RSUD Sultan Imanuddin, pangkalan bun, ktw barat, Kalteng.

Sri Lestari
Lulusan ATRO mana dan Tahun Berapa : Fisika FMIPA UGM
Sekarang bekerja di mana dan sebagai apa :belum kerja, (baru lulus)

Solikhatul Istijabah
Lulusan Atro Depkes Semarang Tahun 1997. Lulus DIV Poltekkes Semarang Tahun 2008.
Bekerja di RSUD Temanggung Ja-teng sebagai radiografer pelaksana


Demikian para peserta kuliah online, modul Sensitometrinya sudah saya kirimkan ke e-mail masing-masing harap dibaca ya

regards,

nova


Baca Selengkapnya...

Katalog Buku Radiologi Terbaru – Bergambar

Para pengunjung blog yang selalu setia nongkrong disini, pada kesempatan kali ini, saya akan mem-posting Katalog Buku Radiologi Terbaru, mau tahu….?

Saat ini koleksi e-book Radiologi yang ada pada saya kira-kira sudah mencapai lebih dari 300 judul buku radiologi (wah… ngga terasa ya udah sebanyak itu), tetapi yang baru saya buat katalog bergambarnya baru sekitar 130-an buku (maaf soalnya bikin katalog bergambar ternyata lebih lama dari bikin artikel atau Handout…).

E-Book Radiologi ini bisa di pesan ke saya langsung melalui e-mail dengan cara menulis judul bukunya. Ketentuan harganya adalah :

- Setiap 1 CD memuat 20 Buku, dengan judul bisa memilih sendiri sesuai keinginan.

- Harga tiap 1 CD Rp. 200.000,- sudah termasuk CD dan Ongkos kirim ke seluruh Indonesia.

- Jika berminat untuk memesan semua koleksi buku yang ada, masalah harga bisa dibicarakan ulang (semua koleksi kira-kira kapasitasnya hampir 5 GB).

Harga Buku di atas sebenarnya tidak mahal, bahkan kalau pengunjung blog ingin download sendiri, bisa searching di google pada blog ini, asal kata kunci yang dimasukkan tepat, pasti akan dapat situs yang menyediakan buku-buku ini. Apalagi kalau ada pengunjung blog yang memiliki Bandwidth unlimited dan sangat cepat, wah tinggal download aja ngga usah beli. Saya hanya membantu pengunjung blog yang berminat untuk mendapatkan buku radiologi terbaru, tetapi mempunyai keterbatasan dalam hal Bandwidth untuk mendownload. Kalau dihitung-hitung biaya Bandwidth dengan Biaya mendapatkan Koleksi saya ya kira-kira sama lah habisnya, mungkin bisa lebih. Belum lagi masalah waktu yang lama untuk mendownload, belum lagi kalau disconnect di tengah-tengah mendownload. Intinya harganya ngga akan ada apa-apanya dibandingkan dengan ilmu yang kita dapatkan dari buku-buku tersebut, bahkan ada seorang dokter yang telah memiliki koleksi buku-buku radiologi ini mengatakan kalo dia telah mendapatkan lebih dari segunung emas....

Sudah banyak juga rekan radiografer yang telah memiliki koleksi saya ini diantaranya :

- Bapak Eddy Susanto – Ketua Jurusan TRO Poltekes Semarang
- Bapak Arif Jauhari – Dosen Jurusan TRO Poltekes Jakarta II
- dr. Sylvia Rachman, Sp.Rad – Radiolog RSUP Dr. M. Djamil Padang
- Mahasiswa ATRO Baiturrahmah Padang – Angkatan 2006


Buat radiografer, dokter umum, dokter bedah, dokter kebidanan dan profesi lain yang ingin lihat-lihat katalog buku radiologi terbaru bergambar, silahkan download disini

regards,

nova

Baca Selengkapnya...

Reading CT Brain Imaging

Kemarin Putu (Radiografer dari Bali) yang selalu setia nongkrong disini, kirim e-mail ke saya. Salah satu point nya adalah katanya saya ini sekarang sudah mulai sibuk sehingga jarang posting yang panjang-panjang. Nah akhirnya semalam saya berfikir, trus saya buka notebook, akhirnya jadi juga saya posting yang agak panjang disini. Pada kesempatan ini saya akan menampilkan bagaimana caranya membaca foto CT Scan Kepala untuk beberapa kasus yang ada, mau tahu.....?

CT Scan Kepala, mungkin banyak radiografer di Indonesia saat ini yang sering mengerjakannya, tapi sedikit dari radiografer di Indonesia yang tahu bagaimana membaca hasil fotonya. Pada kesempatan ini, izinkan saya untuk menampilkan tiga buah kasus yang bisa dijadikan panduan dalam membaca foto CT Scan Kepala. Mudah-mudahan bisa bermanfaat buat radiografer yang membacanya. Berikut ulasannya

Kasus I

Seorang pria berusia 55 tahun di bawa ke Rumah Sakit dalam keadaan tidak sadar. Dia jatuh pingsan setelah mengeluh sakit mendadak pada kepalanya. Tensinya di ukur yaitu 190/120 mm Hg. Kemudian dibuat CT Scan kepala tanpa kontras. Hasilnya sebagai berikut :



Setelah sama-sama kita lihat hasilnya di atas, dapat kita simpulkan sebagai berikut :
Foto CT Scan kepala tanpa kontras menunjukkan adanya haemoragic subarachnoid akut ekstensif. Perhatikan gambaran darah yang tebal pada fissura interhemisferik anterior, fissura sylvian bilateral, basal cisterns, ventrikel dan sulcus kortikal dan intraventrikular ekstensi haemoragic berada pada sisi lateral dan ventrikel ke-4. Dengan bahasa yang lebih sederhana, seharusnya gambaran CSF (Cerebro Spinal Fluid) seharusnya berwarna hitam, tetapi pada kasus ini seluruh ruang pada CSF berwarna putih, dikarenakan adanya darah segar di dalam kepala.

Kasus II
Seorang anak kecil mengalami cedera pada kepalanya dan beberapa saat kemudian anak tersebut mengeluh sakit kepala dan selalu mengantuk. Saat mendaftar ke Rumah Sakit, anak tersebut tidak sadar. Tanda-tanda vital stabil dan dari hasil foto x-ray schedel, tidak menunjukkan adanya tanda-tanda fraktur. Kemudian dilakukan pemeriksaan CT Scan Kepala non kontras. Hasilnya adalah sebagai berikut :



Setelah sama-sama kita lihat Foto CT Scan di atas, maka dapat kita simpulkan sebagai berikut :
Foto Axial CT Scan kepala non kontras di atas memperlihatkan hematoma akut pada extradural di frontoparietal kanan (tanda panah putih) dengan lengkungan massa pada dasar otak dan ventrikel lateral bergeser ke arah kiri. Daerah gelap (ujung panah hitam) yang berada di dalam extradural, mengindikasikan adanya perdarahan aktif.

Kasus III
Seorang laki-laki dewasa mengalami sebuah kecelakaan sepeda motor, kemudian orang tersebut oleh dokter diharuskan menjalani pemeriksaan CT Scan kepala karena dokter meyakini adanya fraktur di kepala yang berimbas pada otaknya. Hasil CT Scan kepala tersebut adalah sebagai berikut :




Foto CT Scan Axial (bone window) di sebelah kiri menunjukkan adanya cairan di dalam sinus sphenoid (ujung panah putih), yang mengindikasikan adanya fraktur pada basis cranii pada pasien dengan trauma kepala. Dengan melihat secara teliti, dapat dilihat adanya fraktur pada daerah mastoid kiri (tanda panah putih).










Foto CT Scan Axial (bone window) di atas menunjukkan pengaburan pada mastoid sebelah kiri jika dibandingkan dengan gambaran mastoid air cells normal pada mastoid sebelah kanan. Perhatikan tampak garis fraktur pada mastoid kiri dan cairan pada mastoid air cells mengindikasikan adanya haemoragic post-trauma atau kebocoran pada CSF.








Perhatikan haemoragic ekstensif pada lobus frontal dengan efek massa yang signifikan. Daerah yang gelap (asterisk) juga terlihat pada daerah frontal dan bagian lobus temporal yang mengindikasikan trauma hebat yang akan berakibat pada cedera axonal.











Foto CT Scan Axial (bone window) di sebelah kiri, memperlihatkan adanya udara bebas pada intracranial (ujung panah putih) yang diakibatkan karena fraktur pada struktur yang berisi udara seperti sinus-sinus dan mastoid air cells.











Oke segitu dulu teman-teman, nanti kalo ada kesempatan waktu lagi, bisa ditambah gambar-gambarnya untuk dibaca. Buat teman-teman yang ingin artikel ini dalam bentuk PDF yang sudah diketik rapih, silahkan download disini

regards,

nova

Baca Selengkapnya...

Berita Duka

Minggu pagi kemarin, saya dikejutkan dengan sebuah berita duka, berita meninggalnya sahabat, radiografer dan ayah dari anak yang lucu.....

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji'uun... itulah yang pertama kali saya ucapkan ketika teman saya Sunpriono (Radiografer RS POLRI Kramat Jati) menelpon saya pada minggu pagi yang mengabarkan bahwa rekan kita satu angkatan yaitu Djadjang Suherman, Radiografer di RS PMI Bogor meninggal dunia setelah menjalani operasi Appendix. Saya benar-benar terkejut tapi itulah Takdir, tidak satu makhluk pun di muka bumi ini yang mengetahui kapan akan dijemput sang pemilik jiwa ini. Selamat Jalan Sahabat ku, semoga Allah SWT menerimamu dengan baik di sana...

In Memoriam With Djadjang


Foto Bersama di Kamar Hotel Acacia Jakarta, saat Seminar Nasional PARI Tahun 2004
(Dari Kiri ke Kanan, Djadjang Suherman (Alm), Saya, M. Teguh Pambudi (Radiografer RS Tebet Jakarta)

Info Tambahan

Bagi pengunjung Blog yang ingin memberikan sumbangan buat istri dan anak almarhum Djadjang (usia 3 tahun 4 bulan) bisa memberikannya melalui Bank Permata No. Rek. 4002117415 atas Nama Santy Budiarti Purnamasari

regards,

nova


Baca Selengkapnya...

Kuliah Online

Karena banyaknya attensi dari para pengunjung Blog maka buat para pengunjung Tempat Nongkrong Radiografer se-Indonesia, sekarang bisa mengikuti Kuliah Online, sebuah program baru yang coba saya tawarkan, bagaimana pengunjung bisa mengikuti kuliahnya, ikuti aturannya berikut….

Pengertian

Kuliah Online adalah kuliah yang diberikan melalui blog ini dengan memaparkan suatu materi kuliah yang bisa dibaca oleh setiap pengunjung blog yang telah terdaftar sebagai peserta.

Persyaratan Peserta Kuliah Online

Setiap pengunjung blog bisa menjadi peserta kuliah Online dengan cara mendaftar terlebih dahulu untuk satu materi kuliah yang akan disampaikan dengan cara mengirimkan e-mail untuk mendaftar.

Keuntungan Menjadi Peserta Kuliah Online

Banyak yang bisa di dapatkan dengan mengikuti Kuliah Online. Kuliah Online ini bisa diikuti oleh semua pengunjung blog dengan cara mendaftar terlebih dahulu seperti yang sudah di jelaskan di atas, dan gratis. Selanjutnya setelah mendaftar, maka peserta kuliah bisa mengikuti kuliah melalui tempat nongkrong radiografer se-Indonesia melalui posting pada hari yang telah ditentukan. Peserta yang sudah mendaftar akan dikirimkan modul materi kuliah saat itu ke e-mail masing-masing. Setiap akhir Kuliah akan diberi tugas dari materi yang telah disampaikan. Setelah menurut saya hasil tugas yang telah diberikan merepresentasikan tingkat pemahaman materi yang telah disampaikan, maka akan diberi ujian. Hasil ujian ini akan di umumkan di Blog ini.

Materi Kuliah Perdana


Untuk materi kuliah perdana adalah SENSITOMETRI. Sebagai gambaran, Sensitometri adalah metode mengukur karakteristik respon film baik terhadap cahaya tampak maupun sinar-x. Dari pengukuran ini, akan dibuat sebuah kurva yang disebut dengan Kurva Karakteristik. Dari Kurva karakteristik yang sudah dibuat, bisa diketahui Speed film, Gamma, Latitude, mAs terendah dan tertinggi yang digunakan.

Pendaftaran Peserta Kuliah Online

Bagi yang berminat untuk menjadi peserta, bisa mendaftar dengan cara mengirimkan e-mail ke nova_rahman@yahoo.com dengan mengisi pesan, mohon di daftarkan menjadi peserta Kuliah Online, kemudian mengisi data-data di bawah ini :

Nama :
Lulusan ATRO mana dan Tahun Berapa :
Sekarang bekerja di mana dan sebagai apa :
No HP yang bisa dihubungi :

Pendaftaran bisa dilakukan mulai hari ini s/d Kamis Tanggal 17 Juli 2008, Kuliah Online akan dilaksanakan pada hari Jum'at Tanggal 18 Juli 2008

Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan.
regards,

nova


Baca Selengkapnya...

Berapa IQ Anda?

Teman-Teman tahu berapa IQ nya? saya punya program bagus kalo mau download..

Programnya kecil kok cuma 800-an KB
Ini Previewnya



Kalo mau download silahkan download disini

Baca Selengkapnya...